Badan Riset dan Inovasi Nasional
07-11-2022
13-08-2024
4adbc601-1f3c-4dc1-8b46-ef0959eedb6a
Kabupaten Berau memiliki sumberdaya hutan mangrove yang sangat berpotensi untuk ...
Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu komoditas perikanan Indones...
Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab pH air sungai sepanjang Sun...
Komunitas makrozoobentos di bagian muara telah diketahui berperan penting dalam ...
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air di Perairan Mayangan,...
INFORMASI: Data berikut ini masih dalam proses pemenuhan Prinsip SDI.
Budidaya Kepiting Bakau (Scylla Serrata) dalam Pemanfaatan Kawasan Mangrove di Kabupaten Berau Kalimantan Timur
Produksi tangkapan kepiting bakau di wilayah Kabupaten Berau turut berkontribusi dalam perdagangan kepiting di Kalimantan Timur yang cukup signifikan. Potensi pasar yang cukup besar memberi peluang bagi pengembangan budidaya kepiting bakau yang lebih serius dan komersial. Di sisi lain Kabupaten Berau produksi perikanan kepiting secara keseluruhan masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam sehingga kesinambungan produksi tidak dapat dipertahankan. Pengembangan silvofishery budidaya kepiting Bakau (Scylla serrata) di Kabupaten Berau Kalimantan Timur telah dilakukan dari Tahun 2012 – 2014. Silvofishery merupakan bentuk budidaya perikanan berkelanjutan dengan input yang rendah, dengan pendekatan terintegrasi sehingga dalam pemanfaatan sumberdaya mangrove dapat tetap mempertahankan keutuhan dan kelestarian kawasan mangrove itu sendiri. Pengembangan budidaya kepiting bakau dengan sistem Silvofishery dapat menjadi alternatif aktivitas ekonomi bagi rakyat pedesaan di pesisir dan dapat mengurangi tekanan ekologi terhadap hutan mangrove. Untuk Pengembangan silvofishery dalam kegiatan budidaya kepiting bakau dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu dengan pembesaran, penggemukan, peneluran dan kepiting lunak didalam tambak 20X30 M dan dalam kotak kayu ukuran 20 X 30 cm. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa untuk budidaya penggemukan, peneluran hanya memerlukan waktu 14 hari dan peningkatan harga jual dari Rp 14.000/kg menjadi Rp 50.000/kg. Prosiding Seminar Nasional Limnologi VII-2014. Hal. 100-113 ISBN 978-979-163-20-3