Badan Riset dan Inovasi Nasional
07-11-2022
12-08-2024
50f017b7-0589-498a-b018-876ba443c1a1
The purpose of this study was to determine the fruit and seed structure of Burah...
Pentaspadon motleyi Hook.f. or plajau is a species of Anacardiaceae that can be ...
Stelechocarpus burahol yang memiliki beberapa nama lokal, diantaranya: burahol d...
Hoya purpureofusca Hook.f. are found in several locations in the Situ Gunung, Mo...
The knowledge of seed germination of potential species is important to used and ...
INFORMASI: Data berikut ini masih dalam proses pemenuhan Prinsip SDI.
Perkecambahan Plajau (Pentaspadon motleyi Hook.F.) Dalam Upaya Menyediakan Bibit Tumbuhan Berpotensi Pangan dan Papan
Pentaspadon motleyi Hook.f. atau plajau (Kalsel) merupakan jenis pohon dari suku Anacardiaceae yang memiliki potensi pangan dan papan. Biji plajau mengandung kadar air 9,96 %; kadar abu 3,10%; kandungan karbohidrat 23,2 %; protein 9,66 %; dan lemak 14,52%. Masyarakat PulauLaut, Kalsel mengkonsumsi biji plajau (endocarp) dengan cara dimakan langsung atau digoreng. Kayu plajau berkualitas baik, memiliki batang yang lurus, cukup kuat dan tidak retak, sehingga digunakan untuk bahan bangunan. Tempat tumbuh plajau adalah tepi sungai atau rawa pada ketinggian kurang dari 200 m dpl., tersebar mulai dari Semenanjung Malaysia, Sumatra, Kalimantan (Sarawak, Brunei, Sabah, Kalbar, Kalsel, Kaltim), Maluku, Papua New Guinea dan Kepulauan Solomon. Masyarakat mengambil plajau dari alam dan belum melakukan budidayanya. Perkecambahan biji plajau merupakan upaya budidaya untuk mendapatkan bibit tanaman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media semai terbaik dalam merespon perkecambahan biji plajau. Perkecambahan dilakukan di Pembibitan Kebun Raya Bogor, dengan perlakuan media semai berupa tanah, sekam, kompos, pasir dan campuran (sekam+kompos+tanah dengan perbandingan 1:1:1). Setiap perlakukan terdiri dari 7 biji plajau yang diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati adalah daya kecambah, awal berkecambah, dan kecepatan berkecambah. Hasil riset menujukkan bahwa rata-rata daya kecambah adalah 23,8%, kecepatan berkecambah 1,04 biji/hari, dan awal berkecambah pada hari ke-19. Tanah merupakan media semai terbaik, karena unggul dalam merespon daya kecambah (28,6%) dan awal berkecambah (hari ke-16) meskipun kecepatan berkecambahnya (1,1 biji/hari) lebih rendah daripada sekam (1,3 biji/hari). Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian Unggulan Bidang Pangan Nabati: Bioresources Untuk Pembangunan Ekonomi Hijau. Bogor, 25 September 2014. Hal. 489-496. ISBN 978-602-98275-8-3